Bakar-bakar di pantai

Tepat pukul 12.45 Wita pasukan anti huru hara alias teman teman pecinta jalan-jalan tanpa rencana mulai berdatangan. Dan betul memang tidak sekali ini sebuah perjalanan yang mengasyikan dihasilkan dari sebuah aksi tanpa rencana.

Di persimpangan jalan sebuah rencana tercetus dari seorang teman. Ide cari ikan segar untuk dibakar di pinggir pantai kayak nya sebuah ide yang mantap terlebih perut sudah mulai kriuk..kriuk… Maklum dari pagi belum ada satupun makanan yang singgah di perut.

Untuk memenuhi ide tersebut, mulailah bergegas menuju salah satu Tempat Pelelangan Ikan (TPI). TPI ini berada di desa Mumbul Sari kecamatan Pringgabaya atau tepatnya biasa di kenal dengan wilayah Labuan Lombok. Di tempat ini segala jenis ikan hasil tangkapan nelayan dikumpulkan dan kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitaran bahkan menurut nelayan, ikan yang ditangkap juga dijual hingga ke ibu Kota (Mataram).

Kembali ke jalan cerita dari awal. Setelah sampai di TPI, pemandangan unik terlihat. Semua pintu gudang tempat penimbunan ikan tertutup rapat. Perahu nelayan berbaris rapi bagaikan mau pawai. Nelayan pada istirahat melaut dikarenakan minggu-minggu ini cuaca kurang bersahabat. Untuk mengisi kekosongan para nelayan menyempatkan diri untuk membersihkan dan merawat perahunya. Ada juga yang sibuk merangkai kata tulisan yang ada di perahunya, hingga pergantian warna demi warna menghiasi perahunya. Berarti hari ini kita gagal total mendapatkan ikan.

p_20160707_121303

Berbagai pendapat mulai bermunculan, ada yang menyarankan ke pasar.  Di pasarpun sepi penjual hanya satu orang yang berjualan itupun ikan hasil tangkapan hari kemarin. Ikan yang dijual tidak memenuhi kriteria yang diinginkan teman-teman. Lanjut ke pencarian berikutnya.

p_20160707_122232
lagi Sidak ke pasar

Kami pun mulai kebingungan jangan sampai keinginan makan ikan bakar tertunda gara-gara tidak ada yang jualan. Semua mulai bingung sambil duduk manis di perataran parkiran pasar Labuan Lombok. Tanpa diduga-duga salah seorang teman SMP muncul dihadapan kita. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari teman-teman. Menanyakan tempat penjualan ikan. Memang kalau sudah kepingin itu ng boleh di tunda. Ide mantap dari teman SMP tersebut tidak mengecewakan agenda tanpa rencana ini.

p_20160707_123132
Preman pasar

Tidak ada ikan ayam pun jadi. Segera setelah berdiskusi panjang teman tersebut menawakan diri untuk membawa ayam. Maksudnya untuk di bakar menggantikan ikan yang kita cari. Tapi dengan satu syarat harus lokasinya yang jauh sekalian berwisata.

Setelah semua beres mulai dari membersihkan ayam hingga bumbu sudah siap tersedia tiba tiba tercetus ide untuk mencari ikan laut sekali lagi. Alhasil ikan pun kami dapatkan. Luar biasa sekali Alhamdulillah…….

Pulau lampu salah satu destinasi wisata dengan pasir putih yang cantik menjadi lokasi tempat bakar ikan dan ayam hari ini. Sebelum lari ke ayam dan ikan bakar saya mau memperkenalkan Pulau Lampu. Tapi mengenai sejarahnya akan saya bahas pada tulisan yang akan datang ya. Pulau lampu terletak di Desa Padak Guar, kec. Sembelia Kabupaten Lombok Timur. Lokasi ini menjadi tempat berwisata atau lokasi Favorit wisatawan lokal baik yang berasl dari kecamatan sekitar maupun dari daerah-daerah yang ada di pulau Lombok. Selain tempat berwisata lokasi ini menjadi pelabuahan penyeberangan menuju empat gili yang ada di sana yaitu Gili Kondo, Gili Bidara, Gili Kapal dan Gili Ketagan.

Lanjut kemasalah bakar-membakar. Sesampai di lokasi segera kita mengumpulkan kayu bakar. Tidak sulit untuk mendapatkan yang kita cari. Tempat ini bersih hanya saja ada sampah-sampah organik yang terbawa dari lautan seperti potongan potongan kayu. Potongan kayu ini yang kita mamfaatkan untuk dijadikan bara buat bakar ikan dan ayam. Dan akhirnya apa yang kita inginkan tersaji dengan maknyosssss……..

img_4853
Bakar ikan hingga bakar poto mantan

Sebenarnya mencari kesenangan bersama teman-teman itu ng harus mahal, ngak harus di cafe di mall dan lain sebagainya. Cukup dengan ini saja guratan senyuman di pipi menghiasi saat menikmati makan di pinggir pantai. Inilah kebersamaan yang selalu kita rindukan. Maklumlah untuk mencari jadwal ngumpul itu sangat sulit kayak mencari emas di kedalaman 120 meter di bawah tanah. Aduh lebay banget sih.  Aksi tanpa rencana ini memang luar bisa. Terkadang kita merencanakan dari jauh-jauh hari, pas di hari acara malah kesibukan mulai menghantui.

Semoga kebersamaan seperti ini selalu terjadi hingga tidak bisa di tentukan. Dan akhir dari cerita ikan dan ayam habis tanpa sisa. Maknyossss.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s