Demi Ambisi Pohon Mulai Disakiti

Nusa Tenggara Barat belakangan ini sedang dilanda fenomena eufora persiapan pemilihan kepala Daerah (Gubernur dan Bupati). Sudah dua periode kepemimpinan sang gubernur muda yang bergelarkan tuan guru, sudah saatnya untuk digantikan.

Pemilihan kepala daerah NTB masih lama tepat nya tahun 2018 tapi para Bakal-Bakal calon sudah mulai sibuk dengan urusan mencari simpati dan dukungan. Tidak tanggung-tanggung ribuan bahkan puluhan ribu baliho, spanduk, poster hingga stiker sudah mulai meramaikan NTB. Berbagai macam slogan ajakan tertulis, bagaikan iklan jualan yang lagi gencar mempromosikan barangnya, bahkan diskon program pun tak tanggung-tanggung di utara kan menjadi andalan tiap bakal-bakal calon.

Yang menjadi perhatian saya ketika semarak promo demi simpatik yaitu tentang aksi tidak terpuji yang di tunjukkan lewat aksi menyakiti pohon. Tidak jarang dari sekian banyak orang yang berkeinginan maju ini melakukan tindakan yang tidak terpuji ini. Tindakan ini dilakukan guna mencari iklan gratis. Pohon menjadi sasaran empuk iklan tanpa biaya.

Perilaku semacam ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua, kala mendekati pemilu, bukan hanya di Lombok atau NTB saja bahkan sudah terjadi di seluruh Indonesia. Jika dicari akar permasalahan dari tahun ke tahun bahkan dari mulai kampanye tahun dulu, kita tidak tau siapa yang memulai menggunakan jasa pohon sebagai alat kampanye. Yang jelas pohon merupakan sasaran empuk yang tidak pernah berhenti untuk terus di sasar sang calon.

Pohon pinggir jalan ditanam guna memberikan perlindungan dari teriknya matahari dan sebagai penyuplai oksigen bagi manusia, supaya manusia tidak menghirup udara kotor yang dibuang oleh asap kendaraan dan cemaran udara. Selain itu juga, pohon memberikan pemandangan yang indah.

Sejak awal Januari 2017, saya sudah mulai merasa terganggu dengan upaya mengiklan kan diri dengan tindakan yang tidak sewajarnya bagi seorang bakal calon pemimpin. Kenarsisan para bakal calon ini terlihat dari foto wajah mereka dengan pedenya terpasang rapi di pinggiran jalan. Terkadang banyak diantara masyarakat yang tidak paham maksud dari iklan kampanye yang tertulis dalam baris kata atau biasa yang disebut slogan. Hanya mereka yang paham apa maksud tulisan yang di tawarkan. Apa gunanya melakukan tindakan demikian kalau sekedar mencari nama. Simpatik itu terbangun bukan satu bulan atau bahkan satu tahun. Saat ini masyarakat sudah mulai pintar melihat siap yang bakalan menjadi pemimpin nya.

Dan pada akhirnya mereka merasa cukup, hanya dengan menyebar spanduk, iklan, poster, stiker dan baliho, tidak peduli bila aksi mereka merusak keindahan kota dan indahnya pemandangan jalan. Tindakannya hingga menyakiti pohon-pohon yang ada bahkan dapat menjadikan sampah yang tidak terurus.

Terlihat memang semua tempat tak luput dari iklan-iklan dan poster-poster kampanye, Tembok rumah, pagar, tiang listrik, pohon-pohon baik besar maupun kecil. Bukan hanya ditempat itu saja, bahkan mereka sudah mulai menyusuri daerah terlarang seperti pusat pendidikan hingga ke rumah ibadah.

Jika sudah dari awal calon pemimpin seperti ini bagaimana ketika saat memimpin. Banyak alasan yang keluar, berdalih itu kesalahan tim relawan nya atau tim suksesnya. Jika tim relawan saja tidak bisa diatur bagaimana mau mengatur masyarakat yang lebih banyak. Tapi ada juga saya lihat penuh dengan kesengajaan, bahkan si calon melihat langsung tidakan tim relawannya yang

Tindakan ini mungkin terlihat sepele dan bahkan sering diremehkan oleh bakal calon. Saya melihat tindakan semacam ini justru akan merusak citra di mata masyarakat. Sudah saat nya kita melihat dan mulai memilih pemimpin yang peduli terhadap lingkungan dan peduli terhadap aturan yang ada.

Ada beberapa peraturan terkait tindakan yang dilakukan oleh beberapa pihak khususnya dalam hal memaku pohon untuk kepentingan iklan baik terkait pemilu maupun iklan layanan yang di pasang oleh masyarakat, diantaranya

Memaku benda di pohon dinyatakan melanggar UU RI no 32 thn 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Peraturan KPU no 15 th 2013 itu berisikan Pedoman Pelaksanaan Pemilu  bahwa alat peraga kampanye tidak di tempatkan di lokasi pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan, jalan protokol jalan bebas hambatan sarana dan prasarana publik, taman dan Pohon.

Sadar atau tidak sadar saat ini alam butuh perhatian lebih dari kita, bukan sebaliknya kita butuh apa yang alam punya. Dan setelah puas dengan apa yang kita dapat dari alam kita acuh begitu saja. Padahal semua yang alam hasilkan bermuara dan bertujuan untuk ke berlangsungan hidup kita. Jika kita merusak alam, secara tidak langsung berarti kita mulai merusak kehidupan kita. [SR]

 

Advertisements

4 thoughts on “Demi Ambisi Pohon Mulai Disakiti

  1. Bener banget ini
    Sedih rasanya melihat pohon2 disakiti seperti itu. Bukan hanya saat pilkada, tapi juga diisi aneka iklan usaha. Bahkan hingga pilkada usai biasanya segala macam poster masih saja menempel hiks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s